SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK KELINCI DAFFA. SEMOGA ISI BLOG INI BERGUNA UNTUK ANDA. SEBAGIAN ISI MATERI BLOG INI (BERUPA TULISAN DAN GAMBAR) MERUPAKAN KUTIPAN DARI BLOG, SITUS DAN SUMBER – SUMBER LAIN YANG SAYA PINJAM UNTUK MENGISI DAN MENGHIASI BLOG INI. TENTU ISI YANG SAYA KUTIP MERUPAKAN MILIK SAH YANG EMPUNYA, SAYA HANYA MEMINJAM DAN MENGUTIP SAJA. SELAIN MATERI TENTANG KELINCI BLOG INI JUGA BERISI INFO – INFO SEPUTAR KEGIATAN USAHA PONDOK KELINCI DAFFA DAN INFO PENJUALAN PRODUK PONDOK KELINCI DAFFA. SELAMAT MEMBACA !

PERHATIAN : PETERNAKAN INI MASIH DALAM TAHAP PERINTISAN

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses Berternak Kelinci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses Berternak Kelinci. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Mei 2011

SUKSES BETERNAK KELINCI HIAS BERAWAL DARI KESENANGAN ANAK


BANDUNG : Lebih dari seratus ekor kelinci berbagai jenis berhasil dikembang biakkan oleh Khoirul Eko Wahyudi di halaman depan rumahnya di Jl Cihanjuang no 254, Kampung Tutug, Kecamatan Parongpong, Bandung. Menurut Pengakuan Eko, paggilan akrabnya, kesuksesannya mengembang biakkan kelinci-kelinci tersebut berawal dari kesenangan dua anaknya terhadap binatang lucu bertelinga panjang tersebut.

“Awalnya kami sekeluarga makan sate kelinci di daerah Lembang, kemudian anak saya ingin membawa pulang kelinci untuk dipelihara. Tapi lama-kelamaan, kelinci-kelinci tersebut beranak pinak, sampai saya kerepotan mengurusnya hingga akhirnya beberapa diantaranya saya jual,” tuturnya.

Dari ketidak sengajaannya tersebut, Kemudian Eko mencoba mengembangkan kelinci hias jenis lain sambil belajar dari beberapa dokter hewan untuk mengetahui bagaimana mengembang biakkan kelinci-kelincinya tersebut. “Saya belajar tentang cara mengembangbiakkan, pemeliharaan, pengobatan, hingga membedah bagian dalam kelinci untuk mengetahui jenis penyakitnya,” katanya.

Berbekal dari bimbingan dokter hewan tadi, Eko mulai serius menjalani usaha pengembangbiakkan kelinci-kelinci hiasnya tersebut hingga akhirnya sekarang sudah bisa berbagi ilmu dengan para tetangganya sekaligus mengajak untuk turut beternak kelinci.

Sekarang Eko sudah memiliki sembilan jenis kelinci, diantaranya Angora, Lyon, Dutch, Tan, Jersey Wolly, English Angora atau Nederland. Namun kelinci-kelinci hasil ternak Eko bukan untuk dikonsumsi melainkan hanya sebagai kelinci indukan saja. Artinya kelinci-kelinci tersebut merupakan bibit yang berkualitas bagus untuk diternakkan kembali.

“Di sini hanya mengembangkan kelinci-kelinci indukan untuk dikembang biakan saja. Makanya jumlah kelinci disini tidak seperti di peternakan pada umumnya,” katanya. Namun, lanjut Eko, ternyata banyak juga masyarakat umum yang membeli kelinci-kelinci tersebut sebagai hewan piaraan untk di rumahnya.

Untuk indukan kelinci pedaging dewasa yang belum hamil, Eko memasang harga Rp100.000, sedangkan untuk indukan yang sudah hamil harganya Rp150.000.

Berbeda lagi untuk harga kelinci-kelinci hias. Menurut Eko, untuk kelinci hias ini tidak ada ukuran standarnya. Bisa jadi untuk seekor kelinci hias dewasa paling murah harganya mencapai Rp500.000. “Kalau kelincinya sudah masuk kategori kontes, bisa mencapai Rp2 juta, apalagi menjadi juara kontes minimal harganya Rp  5  juta,” katanya. (BB-211)

http://www.beritabandoeng.com/berita/2010-02/fgii-tolah-pembentukan-tim-sukses-un/berita/2009-03/sukses-beternak-kelinci-hias-berawal-dari-kesenangan-anak/

BERDAYA DI KAMPUNG KELINCI

Nasional Pikiran Rakyat
SATU setengah tahun lalu, tingkat pengangguran di RW 5 dan 6 Kampung Tutugan, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, cukup tinggi. Meski sebagian besar warga bekerja sebagai petani sayuran, tetapi sisanya tidak memiliki pekerjaan tetap. Atam (49), Ketua RW 5 Kampung Tutugan mengatakan, dari sekitar 150 keluarga, lebih dari setengahnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

Namun, sejak hadirnya Rumah Kelinci milik Khoirul Eko Wahyudi, satu setengah tahun lalu, tingkat pengangguran di kampungnya jauh berkurang. “Saat ini, setengah dari warga saya sudah menjadi pelaku usaha budi daya kelinci. Memang masih ada warga yang nganggur, tapi tak sebanyak dahulu,” katanya, Jumat (12/3).

Tidak heran jika Kampung Tutugan RW 5 dan 6 juga dikenal sebagai Kampung Kelinci. Hampir di setiap pelosok kampung terdapat kandang-kandang kelinci yang berdampingan dengan rumah tinggal. Sedikit sulit untuk bertemu dengan pemilik kandang pada siang hari karena sebagian besar dari mereka tengah ngarit atau mencari rumput untuk pakan kelinci. Ti Saripudin (58), salah seorang peserta lulusan pelatihan di Rumah Kelinci mengatakan, beternak kelinci memiliki prospek menguntungkan. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pekerja bangunan dan menerima jahitan makloon. Dibandingkan dengan kedua pekerjaan itu, penghasilan dari panen kelinci memang jauh lebih besar. Bermodal sepasang kelinci indukan setahun lalu, sekarang ia sudah memiliki tiga puluh ekor kelinci indukan.

Seorang pegawai di Rumah Kelinci, Roni (25) mengatakan , saat ini anggota pusat pelatihan budi daya kelinci mencapai lima puluh orang. Rumah Kelinci yang didirikan Khoirul Eko merupakan pusat pelatihan bagi warga yang ingin membudidayakan kelinci. Rumah Kelincljuga bekerja sama dengan Badan Ami) Zakat (BAZ) Jawa Barat dan Bank Rakyat Indonesia untuk membantu pemberdayaan masyarakat.

Seperti diungkapkan Ny. Suryana (35), istri Khoirul Eko, Rumah Kelinci juga menjadi penjamin modal usaha kepada perbankan. “Mendapat modal dari perbankan itu sulit, harus ada agunan. Melalui Rumah Kelinci warga bisa mendapat pinjaman modal melalui pendampingan kami,” ujarnya. (Eva I .ihas/ “PRT”

Sumber : http://inforumahkelinci.wordpress.com/

ASEP DAN BUDIDAYA KELINCI DI LEMBANG

oleh: LIS DHANIATI
Nama Asep Sutisna relatif populer di kalangan peternak dan penggemar kelinci di Jawa Barat, bahkan Indonesia. Belajar tak kenal lelah membuat ia paham seluk-beluk beternak kelinci hias maupun pedaging. Melalui kelinci, ia ikut mengangkat derajat ekonomi warga Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. 

Kios kelinci begitu mudah dijumpai dalam perjalanan Bandung-Lembang. Tak hanya kelinci hidup, di jalur ini juga mudah ditemukan warung sate kelinci. Seekor kelinci hias dijajakan dengan harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Kelinci telah mendukung perekonomian ratusan peternak, banyak pedagang dan pekerja yang terlibat. Bagi mereka, kelinci tidak sekadar lucu, tetapi juga mampu menopang kehidupan rumah tangga.

Sebagai peternak sekaligus pembudidaya indukan kelinci, Asep Sutisna (45) kerap diundang sebagai narasumber di berbagai seminar. Dia juga menjadi anggota World Rabbit Science Association. Peternakan miliknya pun sering menjadi tempat belajar para pelajar, mahasiswa, serta siapa pun yang tertarik beternak kelinci, dan itu gratis. Tak heran jika ia berkawan akrab dengan banyak akademisi dari fakultas peternakan berbagai perguruan tinggi.

Sebagai peternak, Asep memiliki 100 peternak binaan. Dia tergolong sesepuh dalam kelompok peternak kelinci di kawasan Lembang yang beranggotakan sekitar 300 orang. "Potensi usaha ternak kelinci masih sangat bagus. Sampai sekarang pun peternak Lembang belum bisa memenuhi permintaan pasar, baik kelinci hias maupun pedaging," kata Asep.

Padahal, lanjut Asep, sedikitnya ada 130.000 ekor indukan kelinci di Lembang. Satu induk bisa melahirkan hingga 30 kali dengan jumlah anak rata-rata 5 ekor pada setiap kelahiran. "Sebagian kelinci malah bisa melahirkan sampai sembilan ekor," tuturnya.

Namun, sukses budidaya kelinci di Lembang itu tidak terjadi begitu saja. "Kalau sekadar memelihara kelinci, itu sudah lama dilakukan orang," ucap pria yang sulit mengingat kapan pastinya budidaya kelinci dimulai di Lembang.

Bukan pionir
Asep mengaku dia bukan pionir pemelihara kelinci di Lembang. Tahun 1990-an sebagian warga Desa Gudang Kahuripan sudah memelihara kelinci sebagai kegemaran. Ketika itu Asep justru masih bekerja sebagai juru foto. Bahkan, saat itu, lulusan sekolah teknik menengah jurusan listrik ini masih memiliki studio foto.

Sampai suatu hari anak laki-lakinya, Taufik Soleh, minta dibelikan kelinci. "Waktu itu dia masih anak-anak. Dia pengin punya kelinci karena melihat teman-temannya memelihara kelinci," cerita Asep.

Dia lalu membelikan anaknya lima kelinci yang kemudian dipelihara sambil lalu. Namun, ketika Taufik bosan terhadap kelinci-kelinci itu, Asep menjual lima ekor kelinci tersebut dengan cara memajangnya di jalur Bandung-Lembang. "Ternyata laku. Jadi saya beli kelinci lagi untuk dijual, eh ternyata laku lagi," ujarnya.

Meski demikian, berjualan kelinci hanyalah usaha sampingan yang tak dijalani Asep dengan serius. Dia masih menekuni studio fotonya. Sampai suatu hari telepon dari sang istri menjadi titik baliknya.

"Saat itu saya sedang di studio, istri saya telepon minta saya cepat pulang. Katanya, banyak yang mau membeli kelinci," tutur Asep.

Peristiwa itu hampir bersamaan dengan krisis moneter 1997-1998 yang membuat harga barang-barang naik drastis, termasuk film untuk keperluan studio fotonya. Asep pun memutuskan serius beternak kelinci.

Namun, dia harus menghadapi kenyataan pahit ketika banyak kelinci peliharaannya terserang scabies. Sebagai peternak pemula, Asep belum tahu cara mengatasi penyakit itu hingga banyak kelincinya yang mati. Itu sempat membuat Asep berpikir untuk banting setir, pindah usaha sebagai peternak sapi.

Meskipun tak punya sapi, Asep nekat ikut pelatihan. "Mentornya warga negara Jepang. Di pelatihan itu, dia malah menyarankan saya tetap menekuni ternak kelinci," cerita Asep.

Ia pun belajar banyak dari orang Jepang tersebut. Salah satu hasilnya, ia bisa mengatasi masalah penyakit scabies pada kelinci. Selain ikut berbagai pelatihan, ia juga belajar memelihara dan membudidayakan kelinci dari mereka yang dinilainya lebih berpengalaman. "Saat itu buku referensi tentang budidaya kelinci masih jarang," ujar ayah dua anak itu.

Sedikit demi sedikit Asep mampu menguasai seluk-beluk tentang kelinci. "Kalau mau berhasil jadi peternak, kita harus memahami berbagai hal yang terkait, dari hulu sampai hilir. Jadi kita tidak tergantung dari pihak lain. Banyak peternak ayam yang gulung tikar karena tidak menerapkan konsep itu," katanya.

Menyilangkan
Tak puas hanya membudidayakan jenis kelinci yang biasa dipelihara warga setempat, Asep lalu mendatangkan indukan kelinci dari luar negeri. Dia menyilangkan indukan kelinci impor itu dengan jenis kelinci yang ada.

Kini, ada berbagai jenis kelinci yang diternakkan di Lembang, antara lain American rex, American fuzzy lop, Lop holland, English angora, Dutch, Himalayan, Netherland Dwarf, dan Lion.

Selayaknya dokter hewan, ia pernah meneliti anatomi kelinci dengan membedah bagian pencernaan. Asep juga mempelajari berbagai hal menyangkut pakan kelinci.

"Dulu, saya banyak menghabiskan waktu di kandang untuk mengamati kelinci. Sering saya baru keluar kandang pukul 02.00 atau 04.00. Istri saya sampai bilang, tidur saja di kandang," cerita Asep yang kini omzetnya berkisar Rp 10 juta per minggu ini.

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia juga bisa memproduksi dan memasarkan pakan berupa pelet kering. Ia membuat produk olahan daging kelinci berupa nugget, sosis, dan burger. "Produk olahan belum banyak kita buat karena daging kelinci sangat terbatas. Peternak suka memelihara kelinci hias yang lebih menguntungkan," katanya.

Untuk sate digunakan kelinci hias apkiran. Bahkan, pedagang sate kadang mendatangkan kelinci pedaging dari luar Lembang. "Harga daging hanya bisa ditekan jika peternak fokus pada penjualan kulit kelinci. Harga satu lembar kulit kelinci jenis American rex, misalnya, berkisar 8-16 dollar AS. Itu pun permintaannya tak bisa dipenuhi peternak," ujar Asep.

Masih ada yang ingin diwujudkan Asep, yakni mendirikan usaha kelinci terpadu, mulai dari peternakan, pembibitan, industri produk olahan, pengolahan kulit, restoran, hingga wisata kelinci.

"Kalau cita-cita saya tercapai, pasti ribuan tenaga kerja bisa terserap ya," ucapnya tentang cita-cita yang tentunya membutuhkan investasi miliaran rupiah itu. 


Sumber : http://asep-rabbit.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

JERITAN PETERNAK PEDAGING KELINCI LEMBANG


Bandung - Tak terasa perjalanan penulis menjadi peternak kelinci di Lembang memasuki usia 19 tahun. Hari demi hari berjalan. Orang-orang dari luar Lembang yang tertarik pada ternak kelinci, seringkali terkagum-kagum dengan banyaknya peternak kelinci di Lembang. Ini sesuatu yang membanggakan karena ternyata Kelinci Lembang memberikan banyak inspirasi usaha bagi masyarakat luas, bahkan sampai ke luar negeri.

Tetapi jangan sampai kebanggaan itu membuat kita terlena. Apakah dengan kemajuan itu para peternak sudah meraih hasil dari usahanya? Dari sekitar 800 peternak di kawasan Kecamatan Lembang dan Parongpong, berapakah yang benar-benar sukses berwirausaha? Jangan-jangan mereka bertahan usaha hanya sekedar bertahan karena tidak ada pekerjaan lain.

Ketimpangan harga
Benar bahwa kelinci sudah memberi bukti sebagai hewan penghasil daging berkualitas, dibanding daging sapi atau domba. Bahkan dalam hitungan setahun, kemampuan menghasilkan dagingnya pun lebih lebih dibanding sapi. Riset Balitnak pada 2005 misalnya, menyebutkan usaha kelinci berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan, sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun akan menghasilkan Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan.

Dengan harga minimal ini, peternakan kelinci masih bisa untung, sekalipun sangat sedikit. Namun justru di sinilah masalahnya. Harga rendah ini kemudian mengalihkan banyak peternak kelinci pedaging beralih ke kelinci jenis hias.

Lembang dulu kala dikenal sebagai penghasil daging kelinci, bukan kelinci hias seperti sekarang. Tetapi karena pangsa pasar wisata dan petshop Jakarta juga tertarik dengan kelinci hias, sebagian memilih hias.

Selain itu peternak juga merasakan lebih untung memilih jenis hias, karena harganya berlipat ketimbang kelinci penghasil daging. Satu ekor kelinci hias, anakan umur 1 bulan dijual ke para Bandar dengan harga Rp 10-25 ribu per ekor. Sedangkan kelinci pedaging hanya dihargai Rp 20-25 per ekor untuk umur 4 bulan.

Kenapa harga kelinci hias membumbung tinggi sementara kelinci pedaging anjlog? Bukankah di luar negeri daging kelinci mendapat kemuliaan harga di pasar?

Malaysia katakanlah menghargai daging kelinci per Kg mencapai Rp 125 per Kg. Sedangkan Arab Saudi kira-kira Rp 175-225 ribu per Kg. Sedangkan di Indonesia? Paling banter hanya Rp 25 ribu per Kg.

Warung-warung sate yang berada di kawasan Lembang sampai Tangkuban Perahu memang terus laris. Ada lebih 80 warung sate kelinci dari tiga golongan, kecil atau warung sate mini, golongan menengah atau warung sate kelas rumahan dan golongan elit atau warung sate sekelas restoran.

Setiap hari, terutama sabtu dan minggu tak ada warung sate yang sepi. Masing-masing memiliki konsumen yang sangat bagus. Harga sate kelinci per porsi (termasuk nasi) mencapai Rp 15.000.

Untuk memenuhi target penjualan 15 porsi (150 tusuk) seorang pedagang sate hanya butuh Rp 20-30 ribu atau sate ekor kelinci. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang penjual sate akan mendapatkan uang Rp 225.000 dipotong nasi (-+ Rp 25.000 dan bumbu Rp 15.000).

Pedagang sate kecil yang mampu menjual rata-rata 15 porsi saja keuntungannya sudah sangat besar. Warung sate kelas menengah dalam sehari rata-rata mampu menjual 30-40 porsi, sedangkan kelas restoran mampu menjual antara 100-160 porsi per hari.

Tetapi jujur, harus kita akui kenyataan itu tidak sehat. Pasalnya harga daging dari peternak sangat rendah, yakni Rp 15-30 per ekor. Padahal satu ekor kelinci mampu menghasilkan antara 25-35 porsi sate.

Harga ini sangat jauh dari standar dan menimbulkan rasa frustasi peternak kelinci pedaging karena mereka membutuhkan waktu lama, yakni 3-4 bulan masa penjualan. Berbeda jauh dengan harga kelinci hias. Serendah-rendahnya kelinci hias, yakni Rp 10 ribu, tetap lebih menghasilkan karena bisa dijual dalam masa 1,5 bulan.

Inilah ketimpangan pasar yang tidak terkendali dan membuat para peternak kelinci terpaksa memilih ternak kelinci hias yang asas manfaatnya hanya untuk kesenangan semata, bukan untuk penghasil gizi berkualitas di masyarakat.

Menurut hemat saya, harga kelinci pedaging yang layak minimal Rp 25-28 ribu per Kg. Dengan begitu rata-rata per ekor kelinci siap potong (umur 4 bulan) yang mampu menghasilkan 2 Kg itu dihargai minimal Rp 62-80ribu per ekor.

Dengan harga ini saja, pedagang sate kelinci masih tetap memiliki keuntungan tinggi karena setiap ekor kelinci akan menghasilkan uang minimal Rp 225 ribu dan tambahan uang dari penjualan kulit kelinci yang bisa dijual Rp 5-15 ribu.

Kita senang setiap orang bisa kaya, tetapi kalau satu kelompok bisa kaya sedangkan kelompok lainnya bangkrut, secara otomatis akan menjadi bumerang bagi semua. Gejala ini sebenarnya sudah nampak akhir-akhir ini.

Para penjual sate sudah kelimpungan kesulitan mencari kelinci potong karena para peternak sudah malas beternak kelinci pedaging. Fatalnya lagi, kalau kemudian pasar kelinci hias yang labil itu pada akhirnya merosot. Bisa jadi setelah para peternak beralih dari pedaging ke hias, mereka akan gulung tikar.

Ini sangat berbahaya. Bisnis yang serba mengandalkan tingginya keuntungan tanpa memperhatikan sisi produksi, hanya akan mengakibatkan kesulitan usaha. Karena itu secepatnya para peternak kelinci harus menyatu untuk membuat posisi tawar harga daging kelinci. Para pedagang sate atau produsen daging kelinci lainnya pun mestinya menyadari situasi ini.

Pengirim: Asep Sutisna (Ketua Paguyuban Peternak Kelinci Lembang Bandung Barat).
Email: aseprabbit@gmail.com
Alamat: Jl Raya Bandung-Lembang No 119 Lembang Bandung Barat
No tlp: 0817217***(gst/gst)

Sumber :
http://bandung.detik.com/read/2009/07/06/094148/1159542/500/

BISNIS KELINCI RAMAH LINGKUNGAN RAUP OMZET 40 JUTA PER BULAN


Nuning Priyatna, pengusaha peternakan kelinci ramah lingkungan UR2. Rabbit Project Farm, mampu mengeruk omzet Rp. 40 juta per bulan dari hasil penjualan kelinci dan produk-produk olahannya. “Karena melihat omzet-nya terhitung cukup memuaskan, akhirnya saya memutuskan untuk pensiun dini dari pekerjaan saya sebelumnya”, ujar wanita yang dulunya bekerja sebagai pegawai sebuah bank swasta terkemuka ini. 

Dalam seminggu Nuning mampu menjual 75 ekor kelinci. Harga yang dipatok Nuning untuk kelinci hias anakan berumur 2 bulan berkisar Rp. 150 – 300 ribu dan kelinci pedaging berkisar Rp. 75 – 100 ribu. Selain itu Nuning juga memproduksi sendiri dan menjual pakan pellet untuk kelinci, daging olahan kelinci seperti bakso dan sosis, serta pupuk organik cair dan padat dari limbah kotoran kelinci.

Peluang usaha kelinci ramah lingkungan mulai ditekuni Nuning pada pertengahan tahun 2007. Saat itu dia memelihara kelinci hanya untuk hobi. Dia memulai dengan memelihara 4 ekor kelinci dengan kandang yang didesain seadanya dan ditempatkan tepat di samping halaman rumah. Dalam waktu singkat kelinci miliknya bertambah hingga menjadi delapan ekor.

“Kelinci-kelinci itu satu bulan sekali melahirkan. Makin lama makin banyak hingga ruang di rumah saya yang di Ciganjur menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu, akhirnya saya putuskan untuk memindahkan kelinci-kelinci tersebut ke daerah Cisarua, Bogor”, jelas Nuning.

Sejak kelinci Nuning baru 8 ekor banyak yang menanyakan dan tertarik ingin membeli dari Nuning. Bahkan Nuning pernah ditantang untuk memenuhi pesanan 100 ekor kelinci per minggu. “Karena tantangan tersebut, motivasi saya jadi lebih terpacu dan mulai memandang kelinci sebagai komoditas yang bisa dimanfaatkan untuk membuka peluang usaha,” tutur Nuning.

Niat Nuning untuk serius dalam bisnis ternak kelinci ini direalisasikannya dengan terus menerus belajar, baik dari literatur-literatur atau bertanya langsung kepada peternak kelinci yang ada di sekitar daerah puncak Bogor. “Awalnya saya tidak tahu sama sekali mengenai cara beternak kelinci yang baik dan benar, tapi karena kemauan belajar dan mencari informasi akhirnya saya mendapatkan ilmu yang saya butuhkan untuk mengembangkan usaha ini,” ujar Nuning.

Untuk membangun usahanya, Nuning mendapatkan bantuan modal kerja sebesar Rp. 60 juta dari PT Rekayasa Industri melalui Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Jakarta. “Modal Kerja ini saya gunakan untuk membeli indukan, kandang baru dan mesin pembuat pakan”, ujar Nuning.

Sumber : 
http://www.sinartani.com/peluangusaha/bisnis-kelinci-ramah-lingkungan-raup-omzet-40-juta-per-bulan-1270622278.htm