SELAMAT DATANG DI BLOG PONDOK KELINCI DAFFA. SEMOGA ISI BLOG INI BERGUNA UNTUK ANDA. SEBAGIAN ISI MATERI BLOG INI (BERUPA TULISAN DAN GAMBAR) MERUPAKAN KUTIPAN DARI BLOG, SITUS DAN SUMBER – SUMBER LAIN YANG SAYA PINJAM UNTUK MENGISI DAN MENGHIASI BLOG INI. TENTU ISI YANG SAYA KUTIP MERUPAKAN MILIK SAH YANG EMPUNYA, SAYA HANYA MEMINJAM DAN MENGUTIP SAJA. SELAIN MATERI TENTANG KELINCI BLOG INI JUGA BERISI INFO – INFO SEPUTAR KEGIATAN USAHA PONDOK KELINCI DAFFA DAN INFO PENJUALAN PRODUK PONDOK KELINCI DAFFA. SELAMAT MEMBACA !

PERHATIAN : PETERNAKAN INI MASIH DALAM TAHAP PERINTISAN

Rabu, 25 Mei 2011

TENTANG F0, F1 DAN SETERUSNYA

Beberapa bulan yang lalu ada seseorang mengirim sms ke saya, yang isinya menawarkan beberapa ekor indukan kelinci yang dia jual secara borongan. Dia juga menambahkan embel2 bahwa kelinci2 tersebut adalah F1. Saya hanya tersenyum dan membalas kalau saya belum tertarik ( tentu dengan kalimat yang sopan ). Dan baru2 ini juga ada beberapa penghobi pemula yang main2 ke kandang penjualan saya. Mereka mengatakan bahwa daerah mereka sekarang didatangi oleh beberapa penjual yang menawarkan bibit2 kelinci yang katanya "F1". Hal ini tentu mengusik saya. Ternyata walaupun saat ini kelinci hias sudah dikenal luas di Indonesia, salah kaprah tentang pengertian Fenotip (F) masih saja berkembang. Dan seringkali hal ini dipakai oleh para "pedagang nakal" untuk mengatrol harga kelinci yang dijualnya.

Salah kaprah yang selama ini berkembang :
-> F0, adalah kelinci2 yang didatangkan dari luar negeri.
-> F1, adalah anakan dari F0.
-> F2, adalah anakan dari F1, dst.

Pengertian yang benar :
-> F0, adalah kelinci yang masih mempunyai darah murni (pure breed).
Contoh : Anda mempunyai sepasang indukan rex dengan kualitas bagus. Ketika anda mengawinkan kelinci tersebut, ternyata ada diantara anak2 kelinci tersebut yang mempunyai bulu seperti kelinci biasa/bulunya rex namun tidak merata di seluruh tubuhnya/kualitas bulu anak2nya tidak sebagus induknya. Ini berarti indukan rex yang anda miliki bukanlah pure breed.

-> Istilah F1, F2, F3, dst sebenarnya hanya dipakai oleh breeder2 yang sedang mencoba mengembangkan jenis/strain baru atau digunakan untuk penelitian. Tujuannya adalah untuk mempermudah penandaan.

Contoh : Saya mempunyai Holland Lop (HL) yang masih pure breed (F0), saya juga mempunyai Rex yang juga masih pure breed (F0). Ketika saya mengawinkan kedua kelinci tsb, HL (F0) x Rex (F0) = anakan yang lahir inilah yang disebut dgn F1. Dengan kata lain, F1 adalah hasil persilangan pertama dari 2 jenis kelinci yang berbeda. Namun perlu diperhatikan, induk yang digunakan harus benar2 pure breed (F0). Jadi anda tidak bisa sembarangan menyilangkan kelinci2 anda, karena hasilnya tentu jauh dari yang dibayangkan (kalau menurut istilah saya adalah "silangan hancur").

Dan satu lagi yang harus diperhatikan, biasanya kelinci2 F1 tidak pernah dilepas ke pasar (kecuali ke sesama breeder yang mempunyai tujuan sama). Kenapa? Karena pada umumnya kualitas pada F1 bukanlah kualitas yang diharapkan.

Contoh : Ketika saya mengawinkan HL x Rex, apa yang anda bayangkan? Saya akan mendapatkan kelinci berbulu rex dengan telinga yang jatuh (tentu sangat menyenangkan jika saya mendapatkan ini). Namun bagaimana jika yang saya dapatkan sebaliknya? Anakan yang keluar justru berbulu seperti HL dan telinganya tidak jatuh. Tentu kelinci2 tsb malah akan terlihat spt kelinci lokal bukan? Sehingga, mungkin bisa jadi kualitas kelinci yang saya harapkan baru akan saya dapatkan pada F5 dan baru bisa saya murnikan pada F12 dimana akan menjadi jenis baru (F0). Ini adalah sesuatu yang rumit dan membutuhkan proses yang tidak sebentar.

Jadi, jangan lagi mau dibohongi oleh pedagang2 nakal yang memang jumlahnya tidak sedikit! Jangan lagi terpatok dengan istilah2 F0, F1, dst. Ketika anda ingin membeli satu jenis kelinci, coba anda cari tahu dulu ciri2 atau kriteria standar yang diakui. Baru kemudian anda bisa menilai apakah kelinci yang ingin anda beli itu kualitas bagus/biasa2 saja. Akhir kata, mudah2an penjelasan saya cukup mudah dipahami dan bisa menambah pengetahuan kawan2 pecinta kelinci semuanya.

Sumber : http://tabosrabbit.blogspot.com/2010/01/tentang-f0-f1-dst.html

KUALITAS KELINCI

Jika kita mengacu pada Negara2 yang dunia perkelinciannya sudah maju seperti Amerika, Inggris, dan Perancis, maka kita hanya akan mendapatkan 3 kualitas kelinci yang dijual disana. Kualitas2 itu adalah Show, Brood, dan Pet quality. Seperti apa sih kualitas2 tersebut? Dibawah ini saya akan mencoba menjelaskannya.

Show quality adalah kelinci2 yang sesuai standar dan tidak mempunyai cacat sama sekali. Dalam artian kelinci yang masuk dalam kualitas ini adalah kelinci2 yang memang layak untuk diikutkan dalam kontes dan tidak mungkin terkena diskualifikasi. Kelinci2 yang termasuk dalam kategori ini juga dilengkapi dengan surat silsilah yang lengkap (berasal dari garis keturunan yang baik).

Brood quality adalah kelinci2 yang sebenarnya sesuai standar namun tidak akan mendapatkan nilai tinggi ketika diikutkan dalam kontes/mungkin juga bisa terkena diskualifikasi. Hal ini disebabkan karena kelinci tersebut mempunyai sedikit cacat (kuku kaki putih, pola/warna bulu kurang sempurna, tingkah laku yang kurang baik, mempunyai mata bulan, telinga jatuh sebelah, dll). Namun walaupun begitu, kelinci2 dalam kategori ini masih sangat layak untuk dijadikan indukan karena berasal dari garis keturunan yang baik (dilengkapi dengan surat silsilah).

Pet quality adalah kelinci2 yang tidak layak untuk diikutkan dalam kontes. Namun bukan berarti tidak layak untuk dibeli dan dipelihara. Kelinci2 yang termasuk dalam kategori ini bisa jadi berasal dari sepasang indukan yang bagus, namun karena beberapa hal menyebabkan tidak bisa diikutkan dalam kontes. Contohnya adalah kelinci yang pernah sakit ketika kecil, hal ini menyebabkan pertumbuhannya terhambat dan tidak bisa mencapai berat standar.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sepertinya hal diatas masih belum bisa dipakai di Indonesia (ini menurut saya lho!). Saya mengatakan ini karena beberapa alasan :
  1. Walaupun kelinci sudah dikenal lama di masyarakat, namun kelinci hias (dengan berbagai macam jenis yang ada) masih terhitung baru dikenal disini.
  2. Masyarakat Indonesia masih memandang kelinci sebagai hewan ternak (bukan hewan kesayangan seperti anjing dan kucing), sehingga selalu memikirkan produksi, produksi, dan produksi.
  3. Kebanyakan peternak (apalagi pedagang) sebenarnya tidak paham dengan jenis2 kelinci, sehingga sering terjadi salah kaprah. Ini juga yang membuat 70% (menurut saya) kelinci yang beredar di Indonesia adalah jenis "silangan hancur".
  4. Kebanyakan peternak juga lebih memikirkan kuantitas dan kualitas adalah nomor dua. Ini yang menyebabkan mengapa di peternakan skala besar yang memelihara banyak jenis kelinci justru susah untuk mendapatkan kelinci yang mempunyai kualitas bagus.
  5. Organisasi2 kelinci yang ada di Indonesia masih bersifat lokal (tidak jelas rujukannya kemana). Ini yang membuat standar kontes kelinci di beberapa daerah meragukan. Ini juga yang menyebabkan kita belum bisa membuat pedigree.
  6. Dinas Peternakan di Indonesia belum benar2 serius menggarap potensi hebat dari binatang kesayangan kita ini.

Akhir kata, mudah2an tulisan saya ini dibaca juga oleh pihak2 yang mempunyai power dan mau membantu untuk memajukan dunia perkelincian di negara tercinta kita ini. Tetap semangat teman2 pecinta kelinci!!!

NB : Jika anda ingin serius menjadi penghobi/peternak berkualitas dan belum mengerti betul tentang kualitas, jangan sekali2 membeli kelinci di pasar hewan. Belilah kelinci kepada Breeder2 yang telah mempunyai nama/reputasi bagus, karena informasi yang diberikan dapat dipegang (mereka tidak berbohong).

Sumber : http://tabosrabbit.blogspot.com/2010/01/kualitas-kelinci.html

DEFINISI F-0, F-1, F-2 DAN SETERUSNYA UNTUK KELINCI HIAS?

Dengan berbekal dari dokumen Balitbang Bogor dalam Lokakarya-nya yang berjudul “Strategy Pemuliaan Sebagai Alternatif Peningkatan Produktifitas Kelinci Pedaging” oleh Tike Sartika pada halaman 95 tertulis seperti demikian :
Crossbreeding dari dua breed untuk menghasilkan betina calon induk (F1).
Dalam hal ini dilakukan reciprocal crossbreed antara NZW (New Zealand White) x L (Local) ; L x NZW ; Cal (Californian) x L ; L x Cal ; Cal x NZW ; NZW x Cal ; FG x Cal ; FG x NZW. Tujuan dari reciprocal Crossbreed adalah untuk meningkatkan performance kelinci lokal dan untuk meng-evaluasi hasil silangan mana yang paling baik untuk dijadikan calon induk (strain Sintetik) (F-1) yang akan dikawinkan dengan kelinci FG untuk menghasilkan F-2 Crossbreed terbaik. Dari delapan persilangan tersebut diatas, dipilih pesilangan terbaik sebagai calon induk F-1.
Perkawinan silang antara pejantan FG sebagai Terminal sire breed dengan F-1 hasil Reciprocal cross breed untuk mendapatkan F-2 kelinci Fryer terbaik. dst…..
Dari cuplikan dokumen diatas dapat dikatakan bahwa kualifikasi/kualitas  kelinci F-2 belum tentu kalah dari kualitas F-0 (kelinci asli) maupun F-1-nya.
Sekarang kita amati lagi sekeliling lingkungan perkelincian kita, betapa Fuzzy Lop menjadi kelinci yang diminati oleh para pecinta kelinci hias. Selain bulunya yang menyerupai jenis Angora tapi juga kupingnya turun seperti Holland Lop. Lucu…. demikian komentarnya.
Apakah kelinci ini memiliki kategory F-0 atau F-1? mari kita teliti bersama.
Saya coba search dari en.Wikipedia.org (yang sampai saat ini masih Saya percayai ke sahihannya). Tahukah anda bahwa Fuzzy Lop adalah merupakan hasil crossbreed antara Holland Lop dengan Angora, (kita persempit pengambilan contoh kasusnya dari satu sisi saja ya). Holland Lop juga merupakan crossbreed antara Netherland dwarf dengan French Lop, French Lop merupakan crossbreed antara English Lop dan English Butterfly Rabbit.
So, mau disebut F berapakah jenis Fuzzy Lop ini?…. F-3? Saya rasa iya, soalnya melihat silsilah keturunan diatas seharusnya kelinci ini masuk kedalam kategory tersebut.
Lha sekarang permasalahannya kalau ada yang bilang bahwa Fuzzy Lop saya adalah merupakan keturunan F-0, mungkinkah? ya mungkin saja karena Saya melihat F-0 nya hanya dari kelinci jenis itu saja dan Fuzzy Lop tersebut adalah merupakan anak hasil perkawinan antara Fuzzy Lop itu sendiri (internal breeding).
Jadi teman-teman sekalian, apakah masih perlu bahwa F F-an itu sebagai penentu harga se-ekor kelinci?. Saya koq malah tidak setuju. Ke setujuan Saya adalah bahwa F itu adalah memang difokuskan untuk bidang penelitian karena memang identitas tersebut adalah sangat diperlukan.
Jadi untuk teman-teman yang memang memiliki kelinci yang unik dan tidak diketahui lagi asal usulnya, jangan berkecil hati karena Saya yakin bahwa sesuatu yang unik memiliki harga tersendiri.
Sumber : http://pets.okebunda.com/2011/03/definisi-f-0-f-1-f-2-dst-untuk-kelinci.html

Minggu, 08 Mei 2011

TIGA BUKU UNTUK WIRAUSAHA ORANG DESA

Ada banyak peluang untuk membangun kehidupan ekonomi orang desa. Tetapi kita selalu bingung untuk memberikan pilihan. Kita lupa bahwa keberadaan kita di kota besar berbeda dengan keberadaan saudara kita di desa. Kita tidak bisa menyamakan apa yang ada dalam pikiran kita, sekalipun itu jitu dan brilian bisa mudah diterapkan oleh saudara kita di desa. Situasi, latar belakang, kemampuan SDM yang berbeda membuat kita harus jitu memberikan solusi kepada mereka. Atas dasar tujuan untuk memberikan kontribusi pada kemajuan ekonomi rakyat desa, penerbit Nuansa Cendekia Bandung memberikan satu langkah efektif, tepat dan banyak diminati oleh oleh desa, yakni peternakan kelinci.

Mengapa kelinci?
Ada sejumlah alasan yang penting. Tetapi barangkali tiga hal ini cukup untuk kita renungkan.
  1. Dari sisi investasi, ternak kelinci mengajarkan kecerdasan kepada kita tentang proses pelipatgandaan uang secara produktif, aman, cepat dan ramah lingkungan. 
  2. Dari sisi bisnis, ternak kelinci mengajak kita membuka lahan baru yang belum memiliki problem persaingan. 
  3. Sedangkan dari sisi pemberdayaan, ternak kelinci berarti memajukan kehidupan rakyat melalui gizi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan ekonomi.

Kita tahu betapa sulitnya mencari kiat jitu untuk membangun kemahiran dan pendalaman di setiap bidang usaha. Salahsatu kelemahan orang kita adalah kekurangcepatan mendapat pemahaman mendasar. Di sini buku menjadi penting kehadirannya sebagai salahsatu bekal pemandu proses meraih sukses. Dengan buku tersebut, berbagai sumber ilmu pengetahuan bisa digali dan itu akan membantu wawasan metode praktis dari pelatihan dan praktik sehari-hati. Prinsip sukses tetaplah pada tiga komponen, yakni bacaan, pelatihan, dan praktik magang. Dengan buku ini, para peternak akan mendapatkan bekal mendasar untuk menuju sukses lebih baik.

Kelebihan buku ini:
Ditulis oleh pemelihara kelinci Riset bacaan yang luas dan praktik beternak langsung disertai liputan ke berbagai peternakan kelinci  membuat buku ini (terutama buku Ternak Uang dan Kelinci Domestik) layak dibaca oleh masyarakat, termasuk mereka yang lulusan sekolah dasar.

Tiga buku ini memiliki tiga manfaat.
KELINCI: (Pemeliharaan Secara Ilmiah, Tepat dan Terpadu) akan membimbing pemahaman yang luas tentang kelinci.

KELINCI DOMESTIK (Perawatan dan Pengobatan) akan memandung pemahaman lebih praktis dan mendalam tentang bagaimana mengurus kelinci sehari-hari. Sangat penting menjadi kamus harian para pemilik kelinci.

TERNAK UANG BERSAMA KELINCI (Panduan, bisnis, investasi, pemasaran dan pemberdayaan) akan menjadikan kita tidak bingung oleh perhitungan, marketing dan sistem pasar kelinci. Lebih dari itu buku ini juga memuat kiat dan tips serta mentalitas wirausaha sehingga jalan yang sulit menjadi lebih mudah. 
(Editor Nuansa Cendekia)
Sumber :
http://bukukelinci.blogspot.com/

PANDUAN PERAWATAN DAN PENGOBATAN KELINCI (III)


Buku ini memuat hal-hal penting klhidupan kelinci di peternakan (pemeliharaan domestik). Disusun praktis dengan gaya bahasa populer dan difokuskan untuk penjaga kandang Anda. Setiap penjaga kandang penting untuk menjadikan buku ini sebagai kamus harian. Manakala terjadi masalah-masalah bisa langsung membuka buku ini. dengan buku ini, setidaknya banyak hal yang bisa diselesaikan secara tanggap darurat. Jangan biarkan buku ini lepas dari penjaga kandang peternakan kelinci Anda.


Kelinci Domestik (Perawatan dan Pengobatan)/Penulis: Faiz Manshur & Mutasim Fakkih/ Penerbit: Nuansa Cendekia Bandung, April 2010/Tebal: 244 Hlm/Harga: Rp 46.000.

Pemeliharaan secara domestik mestinya tidak mengubah secara total pola kehidupan kelinci hingga tercerabut dari habibat alamnya. Di era modern, perlu strategi khusus “merumahkan” kelinci dengan pelayanan yang sesuai kebutuhan hidup kelinci, -bukan sesuai kehendak pemiliknya. Antibiotik-modern yang berbahaya mesti diminimalisir. Solusi tanaman obat terbukti lebih mudah, murah dan aman. 

“…Campuran minyak esensial (astiri) dan campuran ekstrak tanaman memiliki efisiensi yang cukup melawan Eimeria dan Clostridium. Merupakan solusi menarik dalam pemeliharaan kesehatan kelinci.” (M. Colin dan A.Y Prigent).

Bingung perawatan dan pengobatan kelinci?
Saatnya hadir ke genggaman Anda untuk mengatasi masalah-masalah pemeliharaan kelinci. Buku ini secara khusus didedikasikan kepada para peternak dan penghobi kelinci untuk memandu menangani masalah-masalah internal peternakan. Tidak banyak teori dalam buku ini karena banyak teori yang sudah ditulis di dalam buku Kelinci Pemeliharaan Secara Ilmiah, Tepat dan Terpadu. Buku ini adalah kelanjutan dari buku tersebut sebagai penjabaran lebih detail tentang seluk beluk pemeliharaan. Sebuah karya baru yang memperhatikan para pembaca yang sedang bergulat dalam pemeliharaan kelinci.

Buku ini akan menjadi kamus perawatan dan pengobatan. Perawatan dalam kandang, makanan, jenis-jenis pellet/konsentrat, sayuran, rumput, dan lain-lain dijabarkan secara detail dan itu akan membuat kita mudah mempraktekkan sesuai domisili kita berada. Kelemahan pemelihara selama ini adalah tidak memahami masalah kelinci. Penyakit remeh temeh seperti kembung, mencret, tidak mau makan, menggerat dan lain sebagainya akan mudah diselesaikan melalui buku ini. Pengobatannya pun ditunjukkan secara praktis dan tidak sepenuhnya bergantung pada antibiotik. Tanaman herbal dibuktikan mudah didapat dan murah untuk pengobatan.

Jenis-jenis tumbuhan yang selama ini kita abaikan ternyata memiliki manfaat besar bagi kelinci sehingga pengobatannya pun mudah dilakukan. Setelah membaca buku ini dipastikan kita akan malu tentang hal-hal yang remeh temeh pada masalah kelinci ternyata penyelesaiannya mudah. Cukup Rp 46 ribu berbagai persoalan yang sedang atau akan terjadi dalam pemeliharaan kelinci akan kita selesaikan melalui buku ini.

Selamat membaca.
 
Solusi praktis buku ini meliputi:
  1. Pemahaman habitat kehidupan kelinci
  2. Manajemen kandang dan pola makan secara tepat 
  3. Tips perawatan hamil dan perawatan anak 
  4. Tips pemberian makanan yang cocok dan murah 
  5. Tips merawat dan mengobati penyakit 
  6. Pemanfaatan tanaman obat untuk kelinci, dll.


Info lanjut bisa dibaca di http://hiburan.kompasiana.com/group/buku/2010/05/11/buku-perawatan-pengobatan-kelinci/

Sumber :
http://bukukelinci.blogspot.com/2010/05/panduan-perawatan-dan-pengobatan.html

PANDUAN INVESTASI, BISNIS, MARKETING DAN PEMBERDAYAAN KELINCI (II)


Peluang Investasi Orang Kota, Peluang Usaha Orang Desa
Judul Buku: Ternak Uang Bersama Kelinci/Penulis : Faiz Manshur/Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung Juli 2009/Tebal: 204 halaman/ Harga: Rp 41.000

Banyak peluang usaha yang berserakan di sekitar kita. Cerita tentang limbah jadi harta melimpah sudah banyak kita dengar. Tetapi dari sekian banyak potensi itu tulisan ini akan bicara tentang potensi luar biasa dari kelinci.

Jangan dibayangkan kelinci yang dimaksud adalah kelinci kampung yang kurus-kurus dan hidup dipelihara petani secara tradisional, melainkan kelinci jenis impor yang memiliki beragam jenis tubuh; mulai yang kerdil (berbobot 7 ons) hingga kelinci jumbo (berbobot 6-8 Kg). Sekarang ini di Indonesia sudah banyak ragam jenis kelinci asing yang berkembang. Sebagian untuk piaraan (hobies) sebagaian untuk tujuan penghasil daging berkualitas.

Saking dahsyatnya potensi usaha kelinci, tak heran kalau kemudian buku ini secara khusus membicarakan perihal Investasi, Bisnis, Marketing dan Pemberdayaan. Buku setebal 188 halaman ditulis secara akurat dan detail tentang seluk beluk usaha kelinci. Dalam buku ini disebutkan, populasi kelinci dalam setiap dua bulan sekali kelahiran mampu menghasilkan 6-8 ekor. Kelinci umur 1 bulan menghasilkan 1 kg daging berkualitas dibanding daging hewan lain.

Daging kelinci memiliki kandungan proteinnya tinggi (25 %), rendah lemak (4%), dan kadar kolesterol daging juga rendah yaitu 1,39 g/kg. Kandungan lemak kelinci hanya 8%, sedangkan daging ayam, sapi, domba, dan babi masing-masing 12%, 24%, 14%, dan 21%. Kadar kolesterolnya sekitar 164 mg/100 gram daging, sedangkan ayam, sapi, domba, dan babi berkisar 220—250 mg/100 gram daging.

Maka, dengan cukup memelihara 2 ekor kelinci betina dan 1 ekor kelinci pejantan, sebuah keluarga dengan 5 penghuni sudah lebih cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar gizi. Karena itulah tak heran jika kelinci bisa menjadi solusi untuk melawan gizi buruk bangsa Indonesia .

Potensi daging kelinci dengan harga Rp 20.000 per Kg adalah harga ideal. Dengan harga itu kelinci meninggalkan penghasilan jauh dari ternak hewan lain, seperti domba dan sapi karena populasinya yang cepat (2 bulan sekali beranak) dan biaya pakan rendah serta ramah lingkungan. Kalau hendak menegak untung luar biasa hingga mencapai 4 kali lipat dari penghasil pedaging, kita bisa beternak kelinci untuk tujuan hias,-hanya saja -memiliki resiko instabilitas pada pemasaran. Di luar tubuhnya kelinci memiliki sejumlah aset luar biasa, pada bulu dan kotoran (pupuk organik) yang sangat berkualitas untuk menyuburkan tanaman, terutama tanaman sayuran, buah dan tanaman hias.

Marketing dan Investasi
Marketing kelinci tergolong unik karena tantangannya bukanlah persaingan, melainkan pembukaan pasar. Pasar kelinci tidak sulit. Melalui pendekatan yang khas, buku ini membuka mata kita untuk memudahkan meraih peluang pasar. Pasar bisa dibuka di mana saja, dengan mudah dan murah. Trik-trik dagang modern yang manusiawi dijelaskan secara baik dan detail dalam buku ini.

Memang tidak semua orang bisa melakuan ternak kelinci. Solusinya adalah investasi bagi hasil kepada peternak handal. Investasi kelinci bisa dilakukan dengan modal kecil dan besar. Atau jika hendak memakai paradigma pemberdayaan, para investor dengan modal Rp 700.000. ternak kelinci sangat cocok untuk penguatan ekonomi rakyat. Seandainya kita hendak mengembangkan secara massal, bisa dilakukan kepada para petani di desa. Ini adalah peluang bisnis sekaligus investasi sosial bagi orang kota untuk memajukan perekonomian petani atau kaum santri di desa-desa.

Kandang kelinci bisa dibuat sendiri dari bahan setempat atau barang-barang sisa. Ukuran kandang untuk masing-masing bibit kelinci cukup 70 X 100 cm. Untuk tiap kelompok anak kelinci dari induk cukup 70 X 70 cm. Jelaslah di sini, pekarangan yang diperlukan tidaklah besar.

Kalau sudah demikian potensial mengapa belum banyak yang ternak kelinci?
Buku ini memberikan jawaban, bahwa masyarakat kita sudah jauh dari "ideologi" beternak maupun bertani. Kebanyakan orang sudah bosan menyandang predikat petani/peternak. Kedua, tidak memiliki lahan dan sarana pendukung, seperti pasokan rumput, pengelolaan pakan dan lain sebagainya. Masalah pertama adalah faktor budaya. Ini adalah masalah mentalitas bangsa secara umum di mana kalangan muda kita lebih dengan gaji pragmatis ketimbang menjadi entrepreneur, terutama di bidang peternakan atau pertanian. Kedua, hanya soal teknis. Sangat bisa diatasi dengan mengenal seluk-beluk ternak kelinci secara mendalam.

Membuka mata lebar-lebar atas setiap potensi adalah cara terbaik bagi kita dan orang-orang di sekitar kita untuk meraih kemajuan. Buku ini sangat baik bagi siapa saja, mereka para petani desa, peternak, pelaku agribisnis dan calon investor yang berminat mengembangkan uangnya beranak pinak secepat populasi kelinci. (Makmun Yusuf)

http://oase.kompas.com/read/2009/09/13/0059025/peluang.investasi.orang.kota.peluang.usaha.orang.desa

BUKU PENGETAHUAN DASAR KELINCI (I)


Judul Buku: KELINCI: (Pemeliharaan secara ilmiah, tepat, dan terpadu)./Penulis: Faiz Manshur/Editor: Mathori Al-Elwa/ Penerbit; Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) Bandung Januari 2009/ Tebal: 284 Halaman 19 x 24 cm. Harga Rp 61.000

Bagaimana menciptakan bisnis baru yang menjanjikan masa depan kehidupan kita?
Ini adalah pertanyaan yang banyak muncul di benak orang. Krisis ekonomi yang terus mendera negeri ini benar-benar mencekik kehidupan. Sektor jasa sangat labil. Pabrik banyak yang tutup. Bagi mereka yang masih bekerja sebagai karyawan kecemasan melanda.

Cepat atau lambat bisa jadi nasib mereka diputuskan sepihak oleh perusahaan. Pemecatan benar-benar menakutkan. Sementara mereka yang menganggur atau bekerja dengan penghasilan minim dirundung ketidakberdayaan modal untuk membuka usaha baru.

Letak kesulitannya karena masing-masing orang berpikir usaha yang menarik perhatian hanya terletak pada sektor jasa atau dagang di kota. Sementara sektor riil seperti pertanian, perikanan dan peternakan seringkali tidak pernah dibayangkan. Menjadi petani atau peternak bagi orang Indonesia bukanlah idaman. Seolah-olah usaha di sektor riil seperti itu tiada hasil yang menjanjikan. Padahal?

Buku ini telah membuktikan asumsi baru yang jauh berseberangan dari asumsi kebanyakan orang. Ternak kelinci yang selama ini dianggap marjinal ternyata memiliki potensi luar biasa untuk menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta dalam setiap bulan. Dan itu bisa dilakukan di kota sekalipun.

Buku ini bukan sekedar panduan teknis pemeliharaan, melainkan memandu kita semua menyadari bahwa kelinci, terutama kelinci impor memiliki nilai besar bagi kehidupan yang tiada terkira.

Kelinci adalah makhluk kecil dengan potensi besar, besar mengalahkan potensi hewan-hewan piaraan lain. Siapapun bisa memelihara, bahkan jika hendak dipelihara di kota sekalipun. Memang, beternak kelinci adalah sesuatu yang baru dan asing. Tetapi di sinilah ujian kita sejauh mana mampu menjadi manusia bijak untuk membangun kehidupan ekonomi baru. Kalau akar masalahnya adalah sektor riil, maka ternak kelinci adalah akar yang bisa ditanam sebagai tumbuhan uang. Kalau masalahnya adalah kesulitan membayangkan praktek ternak kelinci, maka solusinya jelas mempelajari, baik belajar dari peternak langsung maupun dari buku-buku bacaan.

Era globalisasi yang merevolusionerkan setiap sendi-sendiri kehidupan semestinya disikapi dengan cara revolusioner. Dan langkah pertamanya ialah melirik potensi ternak dan bisnis secepat revolusi bergulir. Kelinci adalah potensi yang akan mampu mengubah kehidupan para peternak maupun pelaku bisnis, termasuk mereka yang berusaha di sektor agroindustri.

Ini bisa dibuktikan. Pertama, daging kelinci adalah golongan daging paling baik dan sehat di banding daging hewan lain dan memiliki potensi luar biasa. Hanya saja karena pasokan minim dan masyarakat belum mudah mendapatkan, maka potensi itu hingga kini belum tergali. Kedua, potensi pupuk dari air kencing (urine) dan feses kelinci sangat mahal harganya. Ketiga, penghasil bulu. Bulu kelinci sangat mahal harganya. Pasar luar negeri menghargai satu lembar kulit kelinci antara Rp 140-280 ribu.

Sayangnya, ketiga hal di atas tersebut sampai sekarang belum bergerak. Pasar domestik itu sendiri sangat membutuhkan banyak pasokan daging kelinci. Harga sate kelinci yang mahal dan digemari banyak orang selama ini tidak banyak menyebar bukan karena kelinci tidak laku, melainkan karena kurangnya pasokan daging. Beberapa peternak kelinci yang sering muncul di berbagai media massa masih bertahan pada peternakan kelinci impor golongan hias. Hal ini maklum adanya mengingat harga kelinci hias empat kali lipat lebih tinggi di banding harga kelinci pedaging.

Buku ini tergolong menarik dipelajari oleh mereka, para calon usahawan baru yang tidak gengsi melirik sektor peternakan sebagai calon basis usaha yang menjanjikan uang besar. Di dalamnya membuat seluk beluk kehidupan kelinci. Pola pakan, perawatan, tata tekola dan manajeman pemberdayaan diulas secara rasional dan penuh inspirasi.

Jika tiada rasa gengsi berwirausaha di sektor ini, mereka yang mampu merogoh kocek Rp 1-2 juta akan mampu menghasilkan uang tambahan antara Rp 700.000- 1juta. Bagi mereka yang berani mengeluarkan modal Rp 3-4 juta, akan mampu mendapatkan laba antara Rp 1,2-2 juta. Sedangkan mereka yang mampu menginvestasikan modalnya Rp 25-30 juta bisa meneguk untung 5-6 juta perbulan. Kalau mau lebih serius dengan mengeluarkan modal Rp 150 juta, barangkali penghasilan setiap bulannya akan mencapai Rp 17-25 juta lebih.

Berbagai pengalaman kesuksesan peternak kelinci baik pedaging maupun kelinci hias sudah banyak dialami banyak orang. Sayangnya masyarakat kita kurang peka terhadap perkembangan sektor ternak kelinci ini. Potensi ternak kelinci yang lebih cepat ketimbang ternak sapi atau domba masih dipandang pinggiran. Semua karena asumsi-asumsi lama tentang kelinci lokal peliharaan petani yang dianggap tak memiliki prospek itu.

Bagi Anda yang ingin memajukan ekonomi keluarga, mengembangkan investasi bisnis di sektor agroindustri atau sektor agrobisnis sepatutnya belajar dari buku ini. Sebuah panduan yang tepat dan cocok untuk kalangan manapun, termasuk Anda yang tinggal di kota-kota besar.( Farid Ibrahim) sumber: http://oase.kompas.com/read/2009/05/09/0037179/Potensi.Kelinci.untuk.Rakyat

Banyak hal tentang buku ini bisa dibaca di http://ternaksukses.blogspot.com/

Sumber :
http://bukukelinci.blogspot.com/2010/05/buku-pengetahuan-dasar-kelinci.html#more

ALAMAT PETERNAK KELINCI DI BEBERAPA KOTA BESAR DI INDONESIA


 

BANTEN

  1. Angel Sulvani, jenis kelinci : ragam kelinci hias, lokasi : Tangerang, phone : 021-99208589
  2. Anton (Kencana Rabbit : Rabbit Breeder and Farm), jenis kelinci : aneka ragam kelinci hias, phone : 081806173610
  3. Bagus Wicaksono, jenis kelinci : ragam kelinci hias, lokasi : Pamulang, phone : 081932779103
  4. Eko Kustiawan (Pondok Kelinci), jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias, lokasi : Banten, phone : 08128434885
  5. Hiacinta, jenis kelinci : hias dan pedaging, lokasi : Tangerang, phone : 021-7491223
  6. Jamaluddin bin H. Nahar, jenis kelinci : rex, satin, dutch, new zealand, angora, dll, lokasi : Tangerang, phone : 021-7486144, 0815461863
  7. M. Victor A, jenis kelinci : hias, lokasi : Tangerang, phone : 0812802875


JAKARTA
  1. Azhar, jenis kelinci : ragam kelinci hias, lokasi : Jakarta Selatan, phone : 081316861686
  2. Imam S, jenis kelinci : dutch, rex, nedherland dwarf, fuzzy loop, dwarf hotot, lokasi : Jakarta Timur, 021-8410920, 085216209309
  3. Ary Andromeda, jenis kelinci : ragam jenis kelinci, lokasi : Jatiwaringin, phone : 0818868727
  4. Priyo (Griya Kelinci), jenis kelinci : rex, engora, nedherland, dwarf, dll, lokasi : Jakarta Timur, phone : 021-70383876, 99069680, 081514625720
  5. Riponti Rabbit, jenis kelinci : ragam kelinci hias, lokasi : Jakarta Timur, phone : 08159985216
  6. Yogi, jenis kelinci : nedherland dwarf, lokasi : Pancoran Barat, phone : 081514556443
  7. Rio, jenis kelinci : Rex, angora, lion, dutch, fuzzy loop, dll, lokasi : Jakarta Timur, phone : 021-91938148, 08111900787
  8. Edwyn Kertawinannata, jenis kelinci : hias dan pedaging, lokasi : Jakarta Selatan, phone : 021-71018436, 79184022
  9. Evrin Rabbits Collection, jenis kelinci : new zealand, flamish giant, rex, anggora, lokasi : Kemayoran-Jakarta Pusat, phone : 081 825 1801


JAWA BARAT
  1. Angga (Rabbit for Project Evolution Farm), jenis kelinci : angora, holland loop, satin, flamish giant, lokasi : Cirebon, phone : 08996032609
  2. Ariek, jenis kelinci : aneka ragam kelinci hias, lokasi : Depok, phone : 08121001809
  3. Asep Rabbit Sutrisna, jenis kelinci : rex, fuzzy loop, flemish giant, hotot, satin, angora, lion dll, lokasi : Lembang, phone : 022-2784541, 0817217784
  4. Dadang Supriatna, jenis kelinci : himalayan, satin, dll, lokasi : Lembang, phone : 081320262432
  5. Danu (DeedAF Research), jenis kelinci : satin, english spot, rex, fuzzy loop, dll, lokasi : Bandung, phone : 08122355713
  6. Dedih/Aditya Eka Yulian (Rabbit Collection), jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias, lokasi : Cianjur, phone : 085624687993
  7. Dimas/Fiska Aryani, jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias, lokasi : Parompong, phone : 085659311032
  8. Gusti Merdeka, jenis kelinci : berbagai jenis kelinci hias, lokasi Bogor, phone : 0251-9100604, 0811154831
  9. H. Hana, jenis kelinci : pedaging dan hias, lokasi : Kuningan, phone : 0232-873182, 08522401353
  10. Hasan, jenis kelinci : rex, flemish giant, dll, lokasi : Lembang, phone : 081321874872
  11. Hayat Prabowo, jenis kelinci : ragam jenis, lokasi : Cimahi, phone : 085651343710
  12. Ilham Bachtiar, jenis kelinci : ragam jenis hias, lokasi Cimahi, phone : 081809994464, 022-92122315
  13. Indra Gunawan, jenis kelinci : rex, flemish giant, new zealand, dll, lokasi : Bandung, phone : 022-92388909, 92209241
  14. KeyRaebitHoz, jenis kelinci : new zealand, dwarf, dutch, flemish giant, dll, lokasi :  Sukabumi, phone : 0266-223631, 08562097929
  15. Lieke Martanegara, jenis kelinci : daging dan hias, lokasi : Bandung, phone : 0818633943
  16. M. Yunus, jenis kelinci : beragam kelinci hias, lokasi : Bekasi, 021-32697841, 081513005985
  17. Muktiawan, jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias dan daging, lokasi : Bandung, phone : 081220681985
  18. Nuning/Adi (UR2 Farm Rabbit Project), jenis kelinci : angora, fuzzy loop, rex, dutch, nedherland dwarf, holland loop, dll, lokasi : Bogor, phone : 08161411434
  19. Rabbit Farm, jenis kelinci : new zealand, dll, lokasi : Bogor, phone : 087870215051
  20. Rizal, jenis kelinci : dutch, polish, giant, himalayan, fuzzy loop, rex, satin, dll, lokasi : Bekasi, phone : 081514022286
  21. Robertus Ujo, jenis kelinci : ragam jenis hias dan pedaging, lokasi : Bandung, phone : 08172388011
  22. Sabar, jenis kelinci : new zealand, fuzzy loop, rex, satin, angora, english spot, lion, dwarf hotot, dll, lokasi : Bandung, phone : 081394229014
  23. Taman Kelincihias Ciwidey, jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias, lokasi : Bandung, phone : 08161148536
  24. Wandi, jenis kelinci : pedaging dan hias, lokasi : Sukabumi, phone : 0266-212903
  25. Kang Oedin Farm, jenis kelinci : rex, fuzy, lop, lion, flams, new zealand, angora, lokasi : Tasikmalaya, Phone : 0818610270
  26. Indorabbits/ Gunawan, jenis kelinci : lion, angora English, flemish giant, rex, fuzy loop, holand loop, dutch dan pedaging, lokasi : Bandung, phone : 022-6642751, 08122042028
  27. CV. Karya Mandiri Solinter, jenis kelinci : NZ, Flemish giant, lokasi : Jonggol-Bogor, phone : 021-89933310, 085810242275


YOGYAKARTA
  1. Djiman Santoso, jenis kelinci : flemish giant, new zealand, fuzzy loop, rex, english spot, dll, lokasi : Yogyakarta, phone : 0817260424
  2. Eko (Sentra Kelinci Yogya), jenis kelinci : pedaging dan hias, lokasi : Sleman, phone : 08886946228
  3. Jarwadi/Fathoni (Bengkel Rabbit), jenis kelinci : flemish, new zealand, rex 3 warna, rex-papilon, dalmation, holland loop, dll, lokasi : Sleman, phone : 081328832703
  4. KeyRaebitHoz, jenis kelinci : new zealand, dwarf, dutch, flemish giant, dll, lokasi : Yogyakarta, phone : 0274-512813, 08562097929
  5. Mohayat, jenis kelinci : flemish giant, new zealand, dll, lokasi : Bantul, phone : 0271-7455535, 081227330003
  6. Sumardiyanto (Palagan Rabbit Breeder), jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias, lokasi : Sleman, phone : 0274-6685389, 08121577577
  7. Prima, jenis kelinci : fuzzy loop, dutch (black, tortoise, blue), rex dan rex 3 warna, dwarf hotot, english angora, lokasi : Yogyakarta, phone : 0274-7881313, 081802621313
  8. Shofiararabbit, jenis kelinci : english angora, dutch, fuzzy loop, holland loop, lionhead, giant angora, rex, flemish giant, satin, californian, dll, lokasi : Sleman, phone : 0274-7846061, 087838262173, 081904272161
  9. Sugiharto, jenis kelinci : ragam jenis kelinci hias dan daging, lokasi : Sleman, phone : 081328747137
  10. Sunardi (Ternak Kelinci Panca Mulyo), jenis kelinci : pedaging, lokasi : desa Margorejo, Tempel,  Sleman
  11. Dwi Anto, jenis kelinci : rex dan ragam jenis hias, lokasi : Yogyakarta, phone :   081328242571
  12. Singgih Rabbit Farm, jenis : flaams, spot, rex, dutch, loop dll, lokasi : Yogyakarta, phone : 085643557774


JAWA TENGAH
  1. Anto Budi, jenis kelinci : ragam kelinci, lokasi : Magelang, phone : 085868439797
  2. Bayu Hendrarto Sumarso, jenis kelinci : ragam jenis kelinci, lokasi : Sragen, phone : 0271-892426, 085647471888
  3. Dean Nugroho, jenis kelinci : ragam kelinci, lokasi : Batang, phone : 081393160316
  4. Dwi, jenis kelinci : aneka ragam jenis kelinci, lokasi : Purwokerto, 0281-6842803, 081802425378
  5. Heru, jenis kelinci : new zealand, flemish giant, dll, lokasi : Purwokerto, phone : 081364693664
  6. Joko Suparmono, jenis kelinci : ragam kelinci hias dan potong, lokasi : Jl. Lanjen Rt 01/Rw 01 Sumowono-Bandungan
  7. Juweni/Hambali/Ifin, jenis kelinci : lokal (pedaging), lokasi : dsn Kauman, Klaoran, kec. Klaoran-Temanggung
  8. Kus Yanuarko (Pondok Kelinci Semarang), jenis kelinci : ragam kelinci hias, lokasi : Semarang, phone : 085218423779
  9. Muinudin, jenis kelinci : new zealand, flemish giant, dll, lokasi : desa Progowati, kec. Mungkid, kab. Magelang
  10. Mu’tazim Fakkih, jenis kelinci : ragam kelinci hias dan pedaging, lokasi : Klaten, phone : 0818930092
  11. Oeengs Rabbit, jenis kelinci : rex, angora, fuzzy loop, flemish giant, dll, lokasi : Semarang, phone : 024-70380841
  12. Rudi/Ari, jenis kelinci : new zealand (pedaging), lokasi : Temanggung, phone : 085292872677
  13. Setyo Hartono, Aris Indiarto S.Pd (Optimisagri/KKP Ambar), jenis kelinci : aneka ragam kelinci, lokasi : Purbalingga, phone : 0281-9134011
  14. Slamet, jenis kelinci : australia dan beberapa jenis kelinci hias, lokasi : Semarang, phone : 081325328665
  15. Sugiyanto, jenis kelinci : new zealand angora, dll, lokasi : dsn. Jangleng, Tlogowungu, kec. Kaloran, Temanggung
  16. Susilo/H. Marwono (Tani Bina Karya), jenis kelinci : lion, flemish, australian, rex, dutch, lokasi : Semarang, phone : 0298-713335, 081325074365
  17. Tory Parontoro (Rumah Kelinci Pinggir Sawah), jenis kelinci : american rex, flemish giant, dll, lokasi : Magelang, phone : 081328516999
  18. Widodo (Kelompok Ternak Kelinci Mandiri), jenis kelinci : pedaging, lokasi : desa Pakunden, kec. Ngluwar, Magelang
  19. Yadhi Santo, jenis kelinci : dwarf hotot dan bulu panjang lainnya, lokasi : Semarang, phone : 081325472294
  20. Harlanz Kelinci, jenis kelinci : Flams (pedaging), lokasi : Boyolali - Jawa Tengah, phone :  085725024005, Blog : http://sotrex27kelincirex.blogspot.com
  21. Andria Adiansah, jenis kelinci: lion, flemish gian, anggora , rex, spot, lokasi : Kebumen - Jawa Tengah, phone : 085327029153
  22. Mazrian Rabbit Project, jenis kelinci : dutch, fuzy, loop, anggora, rex, english spot, new zealand, dll. Lokasi : Pati, phone : 087833930606, 085866736331
  23. “Kelompok Ternak Kelinci Sawahan”  cp Bp. Muncar, jenis kelinci : flam, australi, rex, spot, dll, lokasi : Sidomukti-Kota Salatiga, phone : 0811-272-5792
  24. Kembar Rabbit Cp : Erick Ahmad, jenis kelinci : Flamish Giant, Newzelland Australi, Jebres, Rex, Anggora, Engglish Spot, Lop, Lion, lokasi : Ambarawa-Semarang, phone : +62 81 392 1130 22
  25. Naro, jenis kelinci : australi, lokasi : Karanganom-Klaten,  phone : 085647103289
  26. Jibril, jenis kelinci : dutch, rex spot, cinnamon, dwarf hotot, angora, lop, fuzzy lop, tan, new zealand, silver fox, lion head, dll, lokasi : Pekalongan, phone : 085693060506 (menyediakan juga urine dan kotorannya)
  27. “Sapti” jenis kelinci : rex, australia, anggora, dutch, flamish giant, new zealand, loop, lokasi : Prambanan-Klaten, phone : 08175462674, email : qurrota.setyaningsih@gmail.com 
  28. “CACA CICI RABBIT” (pak Dwi), jenis kelinci : australia, lion, angora, fuji loop mini, rex, flamish giant, spot, tersedia juga pupuk urine kelinci “UCIplus”, pupuk organik cair, lokasi : Demak-Jateng, phone : 085226428268 atau email: cacacicirabbit@yahoo.com 
  29. Agung Triyawan, jenis kelinci : lion, rex, dutch, hotot, ND, New Zealand, lokasi : Demak, phone : 081225208007


JAWA TIMUR
  1. Ali Murtadlo, jenis kelinci : ragam kelinci hias dan daging, lokasi : dsn Wadung Kamidin, ds. Tulungrejo, kec. Glenmore, Banyuwangi
  2. Andry, jenis kelinci : pedaging, lokasi : Kediri, phone : 08819271270
  3. David/Fenny, jenis kelinci : english, angora, rex, fuzzy loop, dll, lokasi : Malang, phone : 085649688891, 085633372228
  4. Imam Safir, jenis kelinci : pedaging dan hias, lokasi : dsn Tawing, ds. Ngadisuko, kec. Durenan, Trenggalek
  5. Johan Setiawan (Joey Rabbit House), jenis kelinci : hias dan pedaging, lokasi :  Malang, phone : 08123358147, 08815000901, 08815000132
  6. Rahmat Basuki, jenis kelinci : satin, english loop, fuzzy loop, himalayan, dll, lokasi : Jl Raya Bangsal no 20 Mojokerto
  7. Reza Manvaluthi, jenis kelinci : angora inggris, rex, dutch, nedherland dwarf, flemish giant, dll, lokasi : Surabaya dan Sidoarjo, phone : 081318789456, 0817303707
  8. Riyanto (Perkumpulan Ternak Kelinci Al-Haraka, Aziz Al-Khaf), jenis kelinci : pedaging, lokasi : ds. Sambirejo, kec. Pare, Kediri
  9. Subandi, jenis kelinci : rex, satin, himalayan, anggora, hotot, flemish giant, dutch, persi, tan, dll, lokasi : Sidoarjo, phone : 0817303707
  10. Wahyudi, jenis kelinci : flemish giant, dll, lokasi : Semen, Pucanganom Rt 36/rw 022, Kebonsari, Madiun
  11. Wali Atmadja/Didik Setiawan (Karang Taruna Puspa Jagad), jenis kelinci : pedaging dan hias, lokasi : Semen, kec. Gandusari, Blitar
  12. Yayasan Arek Lintang, jenis kelinci : ragam jenis kelinci, lokasi : Surabaya, phone : 031-53222768
  13. Surabaya Cenna Rabbits, jenis kelinci : kelinci daging dan hias, Lokasi : Surabaya, Phone : (031) 71504463, 83804100, 085232286108
  14. Siswanto Rabbitry, jenis kelinci : pedaging dan hias (flamish giant, rex, new zealand, troli dll), lokasi : Ponorogo, phone : 085 730 828986
  15. Novi Marhaendra P, jenis kelinci : rex, dutch, flemish giant, hotot dll, lokasi : Mojoroto-Kediri, phone : 085646454442 / 085335109090
  16. Hery, jenis kelinci : american chincila, new zealand, english spot, dll, lokasi : Kabat-Banyuwangi, phone : 087857598195
  17. Najich Munaya, jenis kelinci : giant flamish, rex, angora, fuzy loop, australia, dll, lokasi : Tuban, phone : 08563777864
  18. Muhanang, jenis kelinci : khusus flemis giant, lokasi : Plosokerep-Blitar, phone : 081233059625
  19. “Memble Rabbit”, jenis kelinci : hias, lokasi : Surabaya, phone : 085649490808
  20. “Rabbit Corner Mojosari” UP Indriyanto/ Moch. Damyali, jenis kelinci : rex dan Australia, lokasi : Mojosari-Mojokerto, phone : 0321-9144405, 08123025398
  21. Modern rabbit, ikhwan/juniarto, jenis kelinci : berbagai anakan/bibit kelinci dutch, rex, lion, angora inggris, lop, australia, lekuin, flamish giant, dll, lokasi : Bumiaji-Batu-Malang, phone : 081333658595/081553590999
  22. “Hdie’s Rabbit Farm”, jenis kelinci: rex, new zealand, lion, lokasi: Malang, phone: 03417733620
  23. Joen rabbit, UP Bpk. Juniarto, jenis kelinci : berbagai anakan/bibit kelinci dutch, rex, lion, angora inggris, Fuzzy lop, Holand Lop, hotot, flamish giant, dll, lokasi : Jl. Raya Arjuna 50 Surabaya, phone : 031-77300999, 081553590999, 081230890999


BALI
  1. Captain Rabbit, jenis kelinci : flemish giant dan new zealand, lokasi : Buleleng, phone : 0818979705


SUMATERA
  1. Amier Hamzah, jenis kelinci : kelinci hias, lokasi : Palembang, phone : 0711-70227654
  2. Jamin Purba, jenis kelinci : berbagai jenis pedaging dan hias, lokasi : Brastagi, kab. Karo, Sumatera Utara
  3. Purnama Sahar, jenis kelinci : ragam jenis hias dan daging, lokasi : Sumatera Utara, phone : 08566301027
  4. Surya/Eko, jenis kelinci : hias dan pedaging, lokasi : Binjai-Sumatera Utara, phone : 085297995999
  5. Wahyu Hidayat, jenis kelinci : ragam kelinci hias dan pedaging, lokasi : Lampung, phone : 085885335194
  6. Wawan, jenis kelinci : new zealand dll, lokasi : SMAN 1 Alahanpanjang, Solok, Sumatera Barat
  7. Curup’s Rabbit,  jenis kelinci : anggora inggris, loop, rex, satin, hotot, lyo, lokasi : Gadut.-Padang, phone : 085263567631
  8. Budi, jenis kelinci : anggora, loop, martin, flams, dutch, dwarf dll, lokasi : Serdang Bedagei Sumatra Utara, phone : 081265151111 atau 081977448000
  9. Ervan Malik, jenis kelinci :  giant dll, lokasi : Lubuklinggau Sumatera Selatan, phone :  081928699777
  10. “Abylza Rabbit”, jenis kelinci : aneka kelinci hias dan potong, lokasi : Simpang Panca Batu Taba Ampek Angkek, Bukittinggi, Sumatera Barat

SULAWESI
  1. Tri Suryadi, jenis kelinci : fuzzy loop, english anggora, dwarf, hotot, rex 2 warna, lokasi : BTN Minahasa Indah blok C/7 Sungguminahasa kab Gowa, Makassar, SulSel phone : 085255806190, 085299445590.


KALIMANTAN
  1. “Aulia Rabbit”, jenis : berbagai anakan/bibit kelinci, lokasi : Tanjung Redeb Berau Kaltim, phone : 081231106649-08195007354
  2. Centro Rabbit (H. Tarno), jenis kelinci : loop, dutch, flamish giant, new zealand, rex, lokasi : Samarinda-Kaltim, phone : 081933835843, 085250788488, fax: 0541264035
  3. Rizal, jenis kelinci : berbagai jenis anakan kelinci, lokasi : Samarinda, phone : Rizal 085754112253, Dhimas 085250886940

SUKSES BETERNAK KELINCI HIAS BERAWAL DARI KESENANGAN ANAK


BANDUNG : Lebih dari seratus ekor kelinci berbagai jenis berhasil dikembang biakkan oleh Khoirul Eko Wahyudi di halaman depan rumahnya di Jl Cihanjuang no 254, Kampung Tutug, Kecamatan Parongpong, Bandung. Menurut Pengakuan Eko, paggilan akrabnya, kesuksesannya mengembang biakkan kelinci-kelinci tersebut berawal dari kesenangan dua anaknya terhadap binatang lucu bertelinga panjang tersebut.

“Awalnya kami sekeluarga makan sate kelinci di daerah Lembang, kemudian anak saya ingin membawa pulang kelinci untuk dipelihara. Tapi lama-kelamaan, kelinci-kelinci tersebut beranak pinak, sampai saya kerepotan mengurusnya hingga akhirnya beberapa diantaranya saya jual,” tuturnya.

Dari ketidak sengajaannya tersebut, Kemudian Eko mencoba mengembangkan kelinci hias jenis lain sambil belajar dari beberapa dokter hewan untuk mengetahui bagaimana mengembang biakkan kelinci-kelincinya tersebut. “Saya belajar tentang cara mengembangbiakkan, pemeliharaan, pengobatan, hingga membedah bagian dalam kelinci untuk mengetahui jenis penyakitnya,” katanya.

Berbekal dari bimbingan dokter hewan tadi, Eko mulai serius menjalani usaha pengembangbiakkan kelinci-kelinci hiasnya tersebut hingga akhirnya sekarang sudah bisa berbagi ilmu dengan para tetangganya sekaligus mengajak untuk turut beternak kelinci.

Sekarang Eko sudah memiliki sembilan jenis kelinci, diantaranya Angora, Lyon, Dutch, Tan, Jersey Wolly, English Angora atau Nederland. Namun kelinci-kelinci hasil ternak Eko bukan untuk dikonsumsi melainkan hanya sebagai kelinci indukan saja. Artinya kelinci-kelinci tersebut merupakan bibit yang berkualitas bagus untuk diternakkan kembali.

“Di sini hanya mengembangkan kelinci-kelinci indukan untuk dikembang biakan saja. Makanya jumlah kelinci disini tidak seperti di peternakan pada umumnya,” katanya. Namun, lanjut Eko, ternyata banyak juga masyarakat umum yang membeli kelinci-kelinci tersebut sebagai hewan piaraan untk di rumahnya.

Untuk indukan kelinci pedaging dewasa yang belum hamil, Eko memasang harga Rp100.000, sedangkan untuk indukan yang sudah hamil harganya Rp150.000.

Berbeda lagi untuk harga kelinci-kelinci hias. Menurut Eko, untuk kelinci hias ini tidak ada ukuran standarnya. Bisa jadi untuk seekor kelinci hias dewasa paling murah harganya mencapai Rp500.000. “Kalau kelincinya sudah masuk kategori kontes, bisa mencapai Rp2 juta, apalagi menjadi juara kontes minimal harganya Rp  5  juta,” katanya. (BB-211)

http://www.beritabandoeng.com/berita/2010-02/fgii-tolah-pembentukan-tim-sukses-un/berita/2009-03/sukses-beternak-kelinci-hias-berawal-dari-kesenangan-anak/

BERDAYA DI KAMPUNG KELINCI

Nasional Pikiran Rakyat
SATU setengah tahun lalu, tingkat pengangguran di RW 5 dan 6 Kampung Tutugan, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong, cukup tinggi. Meski sebagian besar warga bekerja sebagai petani sayuran, tetapi sisanya tidak memiliki pekerjaan tetap. Atam (49), Ketua RW 5 Kampung Tutugan mengatakan, dari sekitar 150 keluarga, lebih dari setengahnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

Namun, sejak hadirnya Rumah Kelinci milik Khoirul Eko Wahyudi, satu setengah tahun lalu, tingkat pengangguran di kampungnya jauh berkurang. “Saat ini, setengah dari warga saya sudah menjadi pelaku usaha budi daya kelinci. Memang masih ada warga yang nganggur, tapi tak sebanyak dahulu,” katanya, Jumat (12/3).

Tidak heran jika Kampung Tutugan RW 5 dan 6 juga dikenal sebagai Kampung Kelinci. Hampir di setiap pelosok kampung terdapat kandang-kandang kelinci yang berdampingan dengan rumah tinggal. Sedikit sulit untuk bertemu dengan pemilik kandang pada siang hari karena sebagian besar dari mereka tengah ngarit atau mencari rumput untuk pakan kelinci. Ti Saripudin (58), salah seorang peserta lulusan pelatihan di Rumah Kelinci mengatakan, beternak kelinci memiliki prospek menguntungkan. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pekerja bangunan dan menerima jahitan makloon. Dibandingkan dengan kedua pekerjaan itu, penghasilan dari panen kelinci memang jauh lebih besar. Bermodal sepasang kelinci indukan setahun lalu, sekarang ia sudah memiliki tiga puluh ekor kelinci indukan.

Seorang pegawai di Rumah Kelinci, Roni (25) mengatakan , saat ini anggota pusat pelatihan budi daya kelinci mencapai lima puluh orang. Rumah Kelinci yang didirikan Khoirul Eko merupakan pusat pelatihan bagi warga yang ingin membudidayakan kelinci. Rumah Kelincljuga bekerja sama dengan Badan Ami) Zakat (BAZ) Jawa Barat dan Bank Rakyat Indonesia untuk membantu pemberdayaan masyarakat.

Seperti diungkapkan Ny. Suryana (35), istri Khoirul Eko, Rumah Kelinci juga menjadi penjamin modal usaha kepada perbankan. “Mendapat modal dari perbankan itu sulit, harus ada agunan. Melalui Rumah Kelinci warga bisa mendapat pinjaman modal melalui pendampingan kami,” ujarnya. (Eva I .ihas/ “PRT”

Sumber : http://inforumahkelinci.wordpress.com/

ASEP DAN BUDIDAYA KELINCI DI LEMBANG

oleh: LIS DHANIATI
Nama Asep Sutisna relatif populer di kalangan peternak dan penggemar kelinci di Jawa Barat, bahkan Indonesia. Belajar tak kenal lelah membuat ia paham seluk-beluk beternak kelinci hias maupun pedaging. Melalui kelinci, ia ikut mengangkat derajat ekonomi warga Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. 

Kios kelinci begitu mudah dijumpai dalam perjalanan Bandung-Lembang. Tak hanya kelinci hidup, di jalur ini juga mudah ditemukan warung sate kelinci. Seekor kelinci hias dijajakan dengan harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Kelinci telah mendukung perekonomian ratusan peternak, banyak pedagang dan pekerja yang terlibat. Bagi mereka, kelinci tidak sekadar lucu, tetapi juga mampu menopang kehidupan rumah tangga.

Sebagai peternak sekaligus pembudidaya indukan kelinci, Asep Sutisna (45) kerap diundang sebagai narasumber di berbagai seminar. Dia juga menjadi anggota World Rabbit Science Association. Peternakan miliknya pun sering menjadi tempat belajar para pelajar, mahasiswa, serta siapa pun yang tertarik beternak kelinci, dan itu gratis. Tak heran jika ia berkawan akrab dengan banyak akademisi dari fakultas peternakan berbagai perguruan tinggi.

Sebagai peternak, Asep memiliki 100 peternak binaan. Dia tergolong sesepuh dalam kelompok peternak kelinci di kawasan Lembang yang beranggotakan sekitar 300 orang. "Potensi usaha ternak kelinci masih sangat bagus. Sampai sekarang pun peternak Lembang belum bisa memenuhi permintaan pasar, baik kelinci hias maupun pedaging," kata Asep.

Padahal, lanjut Asep, sedikitnya ada 130.000 ekor indukan kelinci di Lembang. Satu induk bisa melahirkan hingga 30 kali dengan jumlah anak rata-rata 5 ekor pada setiap kelahiran. "Sebagian kelinci malah bisa melahirkan sampai sembilan ekor," tuturnya.

Namun, sukses budidaya kelinci di Lembang itu tidak terjadi begitu saja. "Kalau sekadar memelihara kelinci, itu sudah lama dilakukan orang," ucap pria yang sulit mengingat kapan pastinya budidaya kelinci dimulai di Lembang.

Bukan pionir
Asep mengaku dia bukan pionir pemelihara kelinci di Lembang. Tahun 1990-an sebagian warga Desa Gudang Kahuripan sudah memelihara kelinci sebagai kegemaran. Ketika itu Asep justru masih bekerja sebagai juru foto. Bahkan, saat itu, lulusan sekolah teknik menengah jurusan listrik ini masih memiliki studio foto.

Sampai suatu hari anak laki-lakinya, Taufik Soleh, minta dibelikan kelinci. "Waktu itu dia masih anak-anak. Dia pengin punya kelinci karena melihat teman-temannya memelihara kelinci," cerita Asep.

Dia lalu membelikan anaknya lima kelinci yang kemudian dipelihara sambil lalu. Namun, ketika Taufik bosan terhadap kelinci-kelinci itu, Asep menjual lima ekor kelinci tersebut dengan cara memajangnya di jalur Bandung-Lembang. "Ternyata laku. Jadi saya beli kelinci lagi untuk dijual, eh ternyata laku lagi," ujarnya.

Meski demikian, berjualan kelinci hanyalah usaha sampingan yang tak dijalani Asep dengan serius. Dia masih menekuni studio fotonya. Sampai suatu hari telepon dari sang istri menjadi titik baliknya.

"Saat itu saya sedang di studio, istri saya telepon minta saya cepat pulang. Katanya, banyak yang mau membeli kelinci," tutur Asep.

Peristiwa itu hampir bersamaan dengan krisis moneter 1997-1998 yang membuat harga barang-barang naik drastis, termasuk film untuk keperluan studio fotonya. Asep pun memutuskan serius beternak kelinci.

Namun, dia harus menghadapi kenyataan pahit ketika banyak kelinci peliharaannya terserang scabies. Sebagai peternak pemula, Asep belum tahu cara mengatasi penyakit itu hingga banyak kelincinya yang mati. Itu sempat membuat Asep berpikir untuk banting setir, pindah usaha sebagai peternak sapi.

Meskipun tak punya sapi, Asep nekat ikut pelatihan. "Mentornya warga negara Jepang. Di pelatihan itu, dia malah menyarankan saya tetap menekuni ternak kelinci," cerita Asep.

Ia pun belajar banyak dari orang Jepang tersebut. Salah satu hasilnya, ia bisa mengatasi masalah penyakit scabies pada kelinci. Selain ikut berbagai pelatihan, ia juga belajar memelihara dan membudidayakan kelinci dari mereka yang dinilainya lebih berpengalaman. "Saat itu buku referensi tentang budidaya kelinci masih jarang," ujar ayah dua anak itu.

Sedikit demi sedikit Asep mampu menguasai seluk-beluk tentang kelinci. "Kalau mau berhasil jadi peternak, kita harus memahami berbagai hal yang terkait, dari hulu sampai hilir. Jadi kita tidak tergantung dari pihak lain. Banyak peternak ayam yang gulung tikar karena tidak menerapkan konsep itu," katanya.

Menyilangkan
Tak puas hanya membudidayakan jenis kelinci yang biasa dipelihara warga setempat, Asep lalu mendatangkan indukan kelinci dari luar negeri. Dia menyilangkan indukan kelinci impor itu dengan jenis kelinci yang ada.

Kini, ada berbagai jenis kelinci yang diternakkan di Lembang, antara lain American rex, American fuzzy lop, Lop holland, English angora, Dutch, Himalayan, Netherland Dwarf, dan Lion.

Selayaknya dokter hewan, ia pernah meneliti anatomi kelinci dengan membedah bagian pencernaan. Asep juga mempelajari berbagai hal menyangkut pakan kelinci.

"Dulu, saya banyak menghabiskan waktu di kandang untuk mengamati kelinci. Sering saya baru keluar kandang pukul 02.00 atau 04.00. Istri saya sampai bilang, tidur saja di kandang," cerita Asep yang kini omzetnya berkisar Rp 10 juta per minggu ini.

Kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia juga bisa memproduksi dan memasarkan pakan berupa pelet kering. Ia membuat produk olahan daging kelinci berupa nugget, sosis, dan burger. "Produk olahan belum banyak kita buat karena daging kelinci sangat terbatas. Peternak suka memelihara kelinci hias yang lebih menguntungkan," katanya.

Untuk sate digunakan kelinci hias apkiran. Bahkan, pedagang sate kadang mendatangkan kelinci pedaging dari luar Lembang. "Harga daging hanya bisa ditekan jika peternak fokus pada penjualan kulit kelinci. Harga satu lembar kulit kelinci jenis American rex, misalnya, berkisar 8-16 dollar AS. Itu pun permintaannya tak bisa dipenuhi peternak," ujar Asep.

Masih ada yang ingin diwujudkan Asep, yakni mendirikan usaha kelinci terpadu, mulai dari peternakan, pembibitan, industri produk olahan, pengolahan kulit, restoran, hingga wisata kelinci.

"Kalau cita-cita saya tercapai, pasti ribuan tenaga kerja bisa terserap ya," ucapnya tentang cita-cita yang tentunya membutuhkan investasi miliaran rupiah itu. 


Sumber : http://asep-rabbit.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

JERITAN PETERNAK PEDAGING KELINCI LEMBANG


Bandung - Tak terasa perjalanan penulis menjadi peternak kelinci di Lembang memasuki usia 19 tahun. Hari demi hari berjalan. Orang-orang dari luar Lembang yang tertarik pada ternak kelinci, seringkali terkagum-kagum dengan banyaknya peternak kelinci di Lembang. Ini sesuatu yang membanggakan karena ternyata Kelinci Lembang memberikan banyak inspirasi usaha bagi masyarakat luas, bahkan sampai ke luar negeri.

Tetapi jangan sampai kebanggaan itu membuat kita terlena. Apakah dengan kemajuan itu para peternak sudah meraih hasil dari usahanya? Dari sekitar 800 peternak di kawasan Kecamatan Lembang dan Parongpong, berapakah yang benar-benar sukses berwirausaha? Jangan-jangan mereka bertahan usaha hanya sekedar bertahan karena tidak ada pekerjaan lain.

Ketimpangan harga
Benar bahwa kelinci sudah memberi bukti sebagai hewan penghasil daging berkualitas, dibanding daging sapi atau domba. Bahkan dalam hitungan setahun, kemampuan menghasilkan dagingnya pun lebih lebih dibanding sapi. Riset Balitnak pada 2005 misalnya, menyebutkan usaha kelinci berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan, sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun akan menghasilkan Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan.

Dengan harga minimal ini, peternakan kelinci masih bisa untung, sekalipun sangat sedikit. Namun justru di sinilah masalahnya. Harga rendah ini kemudian mengalihkan banyak peternak kelinci pedaging beralih ke kelinci jenis hias.

Lembang dulu kala dikenal sebagai penghasil daging kelinci, bukan kelinci hias seperti sekarang. Tetapi karena pangsa pasar wisata dan petshop Jakarta juga tertarik dengan kelinci hias, sebagian memilih hias.

Selain itu peternak juga merasakan lebih untung memilih jenis hias, karena harganya berlipat ketimbang kelinci penghasil daging. Satu ekor kelinci hias, anakan umur 1 bulan dijual ke para Bandar dengan harga Rp 10-25 ribu per ekor. Sedangkan kelinci pedaging hanya dihargai Rp 20-25 per ekor untuk umur 4 bulan.

Kenapa harga kelinci hias membumbung tinggi sementara kelinci pedaging anjlog? Bukankah di luar negeri daging kelinci mendapat kemuliaan harga di pasar?

Malaysia katakanlah menghargai daging kelinci per Kg mencapai Rp 125 per Kg. Sedangkan Arab Saudi kira-kira Rp 175-225 ribu per Kg. Sedangkan di Indonesia? Paling banter hanya Rp 25 ribu per Kg.

Warung-warung sate yang berada di kawasan Lembang sampai Tangkuban Perahu memang terus laris. Ada lebih 80 warung sate kelinci dari tiga golongan, kecil atau warung sate mini, golongan menengah atau warung sate kelas rumahan dan golongan elit atau warung sate sekelas restoran.

Setiap hari, terutama sabtu dan minggu tak ada warung sate yang sepi. Masing-masing memiliki konsumen yang sangat bagus. Harga sate kelinci per porsi (termasuk nasi) mencapai Rp 15.000.

Untuk memenuhi target penjualan 15 porsi (150 tusuk) seorang pedagang sate hanya butuh Rp 20-30 ribu atau sate ekor kelinci. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang penjual sate akan mendapatkan uang Rp 225.000 dipotong nasi (-+ Rp 25.000 dan bumbu Rp 15.000).

Pedagang sate kecil yang mampu menjual rata-rata 15 porsi saja keuntungannya sudah sangat besar. Warung sate kelas menengah dalam sehari rata-rata mampu menjual 30-40 porsi, sedangkan kelas restoran mampu menjual antara 100-160 porsi per hari.

Tetapi jujur, harus kita akui kenyataan itu tidak sehat. Pasalnya harga daging dari peternak sangat rendah, yakni Rp 15-30 per ekor. Padahal satu ekor kelinci mampu menghasilkan antara 25-35 porsi sate.

Harga ini sangat jauh dari standar dan menimbulkan rasa frustasi peternak kelinci pedaging karena mereka membutuhkan waktu lama, yakni 3-4 bulan masa penjualan. Berbeda jauh dengan harga kelinci hias. Serendah-rendahnya kelinci hias, yakni Rp 10 ribu, tetap lebih menghasilkan karena bisa dijual dalam masa 1,5 bulan.

Inilah ketimpangan pasar yang tidak terkendali dan membuat para peternak kelinci terpaksa memilih ternak kelinci hias yang asas manfaatnya hanya untuk kesenangan semata, bukan untuk penghasil gizi berkualitas di masyarakat.

Menurut hemat saya, harga kelinci pedaging yang layak minimal Rp 25-28 ribu per Kg. Dengan begitu rata-rata per ekor kelinci siap potong (umur 4 bulan) yang mampu menghasilkan 2 Kg itu dihargai minimal Rp 62-80ribu per ekor.

Dengan harga ini saja, pedagang sate kelinci masih tetap memiliki keuntungan tinggi karena setiap ekor kelinci akan menghasilkan uang minimal Rp 225 ribu dan tambahan uang dari penjualan kulit kelinci yang bisa dijual Rp 5-15 ribu.

Kita senang setiap orang bisa kaya, tetapi kalau satu kelompok bisa kaya sedangkan kelompok lainnya bangkrut, secara otomatis akan menjadi bumerang bagi semua. Gejala ini sebenarnya sudah nampak akhir-akhir ini.

Para penjual sate sudah kelimpungan kesulitan mencari kelinci potong karena para peternak sudah malas beternak kelinci pedaging. Fatalnya lagi, kalau kemudian pasar kelinci hias yang labil itu pada akhirnya merosot. Bisa jadi setelah para peternak beralih dari pedaging ke hias, mereka akan gulung tikar.

Ini sangat berbahaya. Bisnis yang serba mengandalkan tingginya keuntungan tanpa memperhatikan sisi produksi, hanya akan mengakibatkan kesulitan usaha. Karena itu secepatnya para peternak kelinci harus menyatu untuk membuat posisi tawar harga daging kelinci. Para pedagang sate atau produsen daging kelinci lainnya pun mestinya menyadari situasi ini.

Pengirim: Asep Sutisna (Ketua Paguyuban Peternak Kelinci Lembang Bandung Barat).
Email: aseprabbit@gmail.com
Alamat: Jl Raya Bandung-Lembang No 119 Lembang Bandung Barat
No tlp: 0817217***(gst/gst)

Sumber :
http://bandung.detik.com/read/2009/07/06/094148/1159542/500/

BISNIS KELINCI RAMAH LINGKUNGAN RAUP OMZET 40 JUTA PER BULAN


Nuning Priyatna, pengusaha peternakan kelinci ramah lingkungan UR2. Rabbit Project Farm, mampu mengeruk omzet Rp. 40 juta per bulan dari hasil penjualan kelinci dan produk-produk olahannya. “Karena melihat omzet-nya terhitung cukup memuaskan, akhirnya saya memutuskan untuk pensiun dini dari pekerjaan saya sebelumnya”, ujar wanita yang dulunya bekerja sebagai pegawai sebuah bank swasta terkemuka ini. 

Dalam seminggu Nuning mampu menjual 75 ekor kelinci. Harga yang dipatok Nuning untuk kelinci hias anakan berumur 2 bulan berkisar Rp. 150 – 300 ribu dan kelinci pedaging berkisar Rp. 75 – 100 ribu. Selain itu Nuning juga memproduksi sendiri dan menjual pakan pellet untuk kelinci, daging olahan kelinci seperti bakso dan sosis, serta pupuk organik cair dan padat dari limbah kotoran kelinci.

Peluang usaha kelinci ramah lingkungan mulai ditekuni Nuning pada pertengahan tahun 2007. Saat itu dia memelihara kelinci hanya untuk hobi. Dia memulai dengan memelihara 4 ekor kelinci dengan kandang yang didesain seadanya dan ditempatkan tepat di samping halaman rumah. Dalam waktu singkat kelinci miliknya bertambah hingga menjadi delapan ekor.

“Kelinci-kelinci itu satu bulan sekali melahirkan. Makin lama makin banyak hingga ruang di rumah saya yang di Ciganjur menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu, akhirnya saya putuskan untuk memindahkan kelinci-kelinci tersebut ke daerah Cisarua, Bogor”, jelas Nuning.

Sejak kelinci Nuning baru 8 ekor banyak yang menanyakan dan tertarik ingin membeli dari Nuning. Bahkan Nuning pernah ditantang untuk memenuhi pesanan 100 ekor kelinci per minggu. “Karena tantangan tersebut, motivasi saya jadi lebih terpacu dan mulai memandang kelinci sebagai komoditas yang bisa dimanfaatkan untuk membuka peluang usaha,” tutur Nuning.

Niat Nuning untuk serius dalam bisnis ternak kelinci ini direalisasikannya dengan terus menerus belajar, baik dari literatur-literatur atau bertanya langsung kepada peternak kelinci yang ada di sekitar daerah puncak Bogor. “Awalnya saya tidak tahu sama sekali mengenai cara beternak kelinci yang baik dan benar, tapi karena kemauan belajar dan mencari informasi akhirnya saya mendapatkan ilmu yang saya butuhkan untuk mengembangkan usaha ini,” ujar Nuning.

Untuk membangun usahanya, Nuning mendapatkan bantuan modal kerja sebesar Rp. 60 juta dari PT Rekayasa Industri melalui Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Jakarta. “Modal Kerja ini saya gunakan untuk membeli indukan, kandang baru dan mesin pembuat pakan”, ujar Nuning.

Sumber : 
http://www.sinartani.com/peluangusaha/bisnis-kelinci-ramah-lingkungan-raup-omzet-40-juta-per-bulan-1270622278.htm